ANALISIS TERHADAP PENERAPAN MANAJEMEN RISIKO KREDIT

ANALISIS TERHADAP PENERAPAN MANAJEMEN RISIKO KREDIT

ANALISIS TERHADAP PENERAPAN MANAJEMEN RISIKO KREDIT

 

ANALISIS TERHADAP PENERAPAN MANAJEMEN RISIKO KREDIT

 

 

Sistem Perkreditan pada Bank Ekspor Indonesia Setelah Penerapan Manajemen Risiko Kredit:

Data Bank Indonesia menyebutkan indikator kinerja perbankan Indonesia dalam akhir tahun 2001 dilihat dari nilai NPL (Non Performing Loan)/kredit bermasalah mencapai 43.4 triliun rupiah dan jumlah bank yang beroperasi mencapai 145 perusahaan. Pada tahun 2002 nilai NPL turun mencapai 33.2 triliun rupiah dan jumlah bank turun menjadi 141 perusahaan.

Bank Indonesia mengeluarkan peraturan Bank Indonesia nomor 5/8/PBI/2003 tanggal 19 Mei 2003 tentang penerapan manajemen risiko bagi bank umum. Sejalan dengan hal-hal tersebut diatas, Bank Ekspor Indonesia merasa perlu menetapkan standar-standar   sebagai acuan terhadap pengambilan risiko di sektor perbankan. Langkah-langkah yang diambil oleh Bank Ekspor Indonesia untuk meningkatkan kualitas pengelolaan dan pengendalian risiko dengan cara, membentuk organisasi manajemen risiko yang terdiri dari komite manajemen risiko dan penyempurnaan divisi manajemen risiko.

Data pada tabel diatas menunjukkan pada tahun 2004 posisi kredit yang diberikan (gross) sebesar Rp 6,136,377 juta, meningkat sebesar Rp 2,068,503 juta (51%) dibandingkan tahun 2003 sebesar Rp 4,067,874 juta yang merupakan cerminan dari tetap konsistennya manajemen dalam mengelola kredit. Dan pada tahun 2005 terjadi penurunan jumlah pinjaman sebesar Rp 1,463,874 juta (23,85 %) atau sebesar Rp 4,672,503 juta. 51%.

 

 

Penurunan angka penyaluran kredit tersebut disebabkan:

Fasilitas pembiayaan Bank Ekspor Indonesia lebih bersifat transaksional dimana kredit yang disalurkan kepada debitur selalu berfluktuasi/naik turun sesuai kebutuhan eksportir dan ditambah adanya pelunasan fasilitas kredit oleh beberapa debitur dalam kurun waktu kurang dari satu tahun.

Rasio pendapatan bunga untuk tahun 2004 adalah Rp 354,928 juta, menurun sebesar Rp 112,602 juta atau dalam prosentase perbandingan terhadap total pinjaman, menurun sebesar 5,71%. Penurunan tersebut terutama disebabkan oleh menurunnya tingkat suku bunga pinjaman di perbankan pada umumnya.

ROA dalam tiga tahun terakhir yaitu tahun 2003-2005 mengalami penurunan yang diakibatkan karena pergerakan aset belum dapat menciptakan bunga secara optimal. ROE juga terdapat penurunan laba bersih pada tahun 2004 sebesar 4% namun tahun 2005 laba

bersih kembali naik 1%.

Apabila ditinjau dari sisi pencapaian NPL selama periode tahun 2003 hingga tahun 2005, nampak bahwa selama periode tersebut rasio NPL dapat dipertahankan yaitu dengan rata-rata kurang dari satu persen atau dapat dilihat pada tahun 2005 yaitu 0.77 %.

Hal ini dapat mencerminkan bahwa Bank selama periode 2000-2005 telah menjaga nilai NPL dibawah ketentuan Bank Indonesia yaitu 5% dan juga telah mempertahankan CAR diatas batas minimum Bank Indonesia sebesar 8%. Indikasi tersebut mencerminkan bahwa tingkat kesehatan Bank Ekspor Indonesia selama lima tahun dalam kodisi sehat.

Keadaan ini juga ditambah dari nilai ROA yang rata-rata keseluruhan jauh diangka negatif, sebagai salah satu indikasi bahwa bank tersebut masih mendapatkan keuntungan. Indikasi inilah yang juga mencerminkan adanya kemampuan manajemen dalam mengelola risiko kredit, sehingga dalam pengelolaanya Bank Ekspor Indonesia dapat menganalisis serta mencermati risiko kedepan yang akan timbul.

 

 

Kesimpulan:

Strategi yang diambil Bank Ekspor Indonesia dalam implementasi adalah dengan membangun manajemen risiko yang mempertimbangkan aspek-aspek portofolio management yaitu dengan menetapkan loan exposure limit, mempergunakan CRMS tools, sebagai alat bantu dalam proses rating, dan penggunaan rating system dalam menganalisis risiko. Dengan strategi yang baru tersebut dapat menciptakan kualitas kredit yang lebih baik untuk menghadapi tantangan kedepan dalam pengelolaan kualitas kredit.

Dari penerapan manajemen risiko terdapat perubahan yang menjadi kekuatan pada Bank Ekspor Indonesia diantaranya adalah berkurangnya unsur subyektif dalam pemberian kredit, lebih efektif dalam memetakan risiko kredit dan penyebaranya dan dapat memberikan gambaran yang lebih akurat terhadap potensi pasar, lebih akurat dalam penetapan tindakan pencegahan untuk memperkecil kemungkinan terjadinya risiko.

 

 

Penerapan kebijakan manajemen risiko ini juga mempunyai kelemahan:

Membutuhkan effort yang lebih besar dibanding metode konvensional (waktu, biaya, perangkat lunak/keras), memerlukan kontiunitas/konsistensi dalam review dan updating data agar dapat menghasilkan informasi yang lebih akurat dan data yang digunakan bersifat historis sehingga penolakan/penerimaan kredit tidak memperhitungkan prospek usaha.

Startegi baru yang diambil oleh Bank Ekspor Indonesia dalam pengelolaan kualitas kredit, karena telah menciptakan kualitas kredit yang lebih baik untuk menghadapi tantangan kedepan. Selain itu dalam penerapan manajemen resiko seharusnya lebih meminimalisir kelemahannya, agar dapat menghasilkan informasi yang lebih akurat dan handal. Maka dengan informasi yang akurat dan handal dapat lebih efektif dan efisien dalam penerapan manajemen resiko.

 

Baca Juga Artikel Lainnya: