BUDIDAYA IKAN NILA ( Oreochromis Niloticus )

BUDIDAYA IKAN NILA ( Oreochromis Niloticus )

BUDIDAYA IKAN NILA ( Oreochromis Niloticus )

BUDIDAYA IKAN NILA ( Oreochromis Niloticus )
BUDIDAYA IKAN NILA ( Oreochromis Niloticus )

6.1. Penyiapan Sarana dan Peralatan

1) Kolam

Sarana berupa kolam yang perlu disediakan dalam usaha budidaya ikan nila

tergantung dari sistim pemeliharaannya (sistim 1 kolam, 2 kolam dlsb).

Adapun jenis kolam yang umum dipergunakan dalam budidaya ikan nila

antara lain:

  1. a) Kolam pemeliharaan induk/kolam pemijahan

Kolam ini berfungsi sebagai kolam pemijahan, kolam sebaiknya berupa

kolam tanah yang luasnya 50-100 meter persegi dan kepadatan kolam

induk hanya 2 ekor/m2. Adapun syarat kolam pemijahan adalah suhu air

berkisar antara 20-22 derajat C; kedalaman air 40-60 cm; dasar kolam

sebaiknya berpasir.

  1. b) Kolam pemeliharaan benih/kolam pendederan

Luas kolam tidak lebih dari 50-100 meter persegi. Kedalaman air kolam

antara 30-50 cm. Kepadatan sebaiknya 5-50 ekor/meter persegi. Lama

pemeliharaan di dalam kolam pendederan/ipukan antara 3-4 minggu,

pada saat benih ikan berukuran 3-5 cm.

  1. c) Kolam pembesaran

Kolam pembesaran berfungsi sebagai tempat untuk memelihara dan

membesarkan benih selepas dari kolam pendederan. Adakalanya dalam

pemeliharaan ini diperlukan beberapa kolam pembesaran, yaitu:

  1. Kolam pembesaran tahap I berfungsi untuk memelihara benih ikan

selepas dari kolam pendederan. Kolam ini sebaiknya berjumlah antara

2-4 buah dengan luas maksimum 250-500 meter persegi/kolam.

Pembesaran tahap I ini tidak dianjurkan memakai kolam semen, sebab

benih ukuran ini memerlukan ruang yang luas. Setelah benih menjadi

gelondongan kecil maka benih memasuki pembesaran tahap kedua

atau langsung dijual kepada pera petani.

  1. Kolam pembesaran tahap II berfungsi untuk memelihara benih

gelondongan besar. Kolam dapat berupa kolam tanah atau sawah.

Keramba apung juga dapat digunakan dengan mata jaring 1,25–1,5 cm.

Jumlah penebaran pembesaran tahap II sebaiknya tidak lebih dari 10

ekor/meter persegi.

  1. Pembesaran tahap III berfungsi untuk membesarkan benih. Diperlukan

kolam tanah antara 80-100 cm dengan luas 500-2.000 meter persegi.

  1. d) Kolam/tempat pemberokan

Pembesaran ikan nila dapat pula dilakukan di jaring apung, berupa Hapa

berukuran 1 x 2 m sampai 2 x 3 m dengan kedalaman 75-100 cm. Ukuran

hapa dapat disesuaikan dengan kedalaman kolam. Selain itu sawah yang

sedang diberokan dapat dipergunakan pula untuk pemijahan dan

pemeliharaan benih ikan nila. Sebelum digunakan petak sawah diperdalam

dahulu agar dapat menampung air sedalam 50-60 cm, dibuat parit selebar 1-

1,5 m dengan kedalaman 60-75 cm.

2) Peralatan

Alat-alat yang biasa digunakan dalam usaha pembenihan ikan nila

diantaranya adalah: jala, waring (anco), hapa (kotak dari jaring/kelambu

untuk menampung sementara induk maupun benih), seser, ember-ember,

baskom berbagai ukuran, timbangan skala kecil (gram) dan besar (kg),

cangkul, arit, pisau serta piring secchi (secchi disc) untuk mengukur kadar

kekeruhan.

Sedangkan peralatan lain yang digunakan untuk memanen/menangkap ikan

nila antara lain adalah warring/scoopnet yang halus, ayakan panglembangan

diameter 100 cm, ayakan penandean diameter 5 cm, tempat menyimpan

ikan, keramba kemplung, keramba kupyak, fish bus (untuk mengangkut ikan

jarak dekat), kekaban (untuk tempat penempelan telur yang bersifat

melekat), hapa dari kain tricote (untuk penetasan telur secara terkontrol) atau

kadang-kadang untuk penangkapan benih, ayakan penyabetan dari

alumunium/bambu, oblok/delok (untuk pengangkut benih), sirib (untuk

menangkap benih ukuran 10 cm keatas), anco/hanco (untuk menangkap

ikan), lambit dari jaring nilon (untuk menangkap ikan konsumsi), scoopnet

(untuk menangkap benih ikan yang berumur satu minggu keatas), seser

(gunanya= scoopnet, tetapi ukurannya lebih besar), jaring berbentuk

segiempat (untuk menangkap induk ikan atau ikan konsumsi).

3) Persiapan Media

Yang dimaksud dengan persiapan adalah melakukan penyiapan media untuk

pemeliharaan ikan, terutama mengenai pengeringan, pemupukan dlsb.

Dalam menyiapkan media pemeliharaan ini, yang perlu dilakukan adalah

pengeringan kolam selama beberapa hari, lalu dilakukan pengapuran untuk

memberantas hama dan ikan-ikan liar sebanyak 25-200 gram/meter persegi,

diberi pemupukan berupa pupuk buatan, yaitu urea dan TSP masing-masing

dengan dosis 50-700 gram/meter persegi, bisa juga ditambahkan pupuk

buatan yang berupa urea dan TSP masing-masing dengan dosis 15 gram

dan 10 gram/meter persegi.

6.2. Pembibitan

1) Pemilihan Bibit dan Induk

Ciri-ciri induk bibit nila yang unggul adalah sebagai berikut:

  1. a) Mampu memproduksi benih dalam jumlah yang besar dengan kwalitas

yang tinggi.

  1. b) Pertumbuhannya sangat cepat.
  2. c) Sangat responsif terhadap makanan buatan yang diberikan.
  3. d) Resisten terhadap serangan hama, parasit dan penyakit.
  4. e) Dapat hidup dan tumbuh baik pada lingkungan perairan yang relatif buruk.
  5. f) Ukuran induk yang baik untuk dipijahkan yaitu 120-180 gram lebih per

ekor dan berumur sekitar 4-5 bulan.

Adapun ciri-ciri untuk membedakan induk jantan dan induk betina adalah

sebagai berikut:

  1. a) Betina
  2. Terdapat 3 buah lubang pada urogenetial yaitu: dubur, lubang

pengeluaran telur dan lubang urine.

  1. Ujung sirip berwarna kemerah-merahan pucat tidak jelas.
  2. Warna perut lebih putih.
  3. Warna dagu putih.
  4. Jika perut distriping tidak mengeluarkan cairan.
  5. b) Jantan
  6. Pada alat urogenetial terdapat 2 buah lubang yaitu: anus dan lubang

sperma merangkap lubang urine.

  1. Ujung sirip berwarna kemerah-merahan terang dan jelas.
  2. Warna perut lebih gelap/kehitam-hitaman.
  3. Warna dagu kehitam-hitaman dan kemerah-merahan.
  4. Jika perut distriping mengeluarkan cairan.

Ikan nila sangat mudah kawin silang dan bertelur secara liar. Akibatnya,

kepadatan kolam meningkat. Disamping itu, ikan nila yang sedang beranak

lambat pertumbuhan sehingga diperlukan waktu yang lebih lama agar

dicapai ukuran untuk dikonsumsi yang diharapkan.

Untuk mengatasi kekurangan ikan nila di atas, maka dikembang metode

kultur tunggal kelamin (monoseks). Dalam metode ini benih jantan saja yang

dipelihara karena ikan nila jantan yang tumbuh lebih cepat dan ikan nila

betina. Ada empat cara untuk memproduksi benih ikan nila jantan yaitu:

  1. a) Secara manual (dipilih)
  2. b) Sistem hibridisasi antarjenis tertentu
  3. c) Merangsang perubahan seks dengan hormon
  4. d) Teknik penggunaan hormon seks jantan ada dua cara.
  5. Perendaman
  6. Perlakuan hormon melalui pakan

2) Pembenihan dan Pemeliharaan Benih

Pada usaha pembenihan, kegiatan yang dilakukan adalah :

  1. a) Memelihara dan memijahkan induk ikan untuk menghasilkan burayak

(anak ikan).

  1. b) Memelihara burayak (mendeder) untuk menghasilkan benih ikan yang

lebih besar.

Usaha pembenihan biasanya menghasilkan benih yang berbeda-beda

ukurannya. Hal ini berkaitan dengan lamanya pemeliharaan benih. Benih

ikan nila yang baru lepas dan mulut induknya disebut “benih kebul”. Benih

yang berumur 2-3 minggu setelah menetas disebut benih kecil, yang disebut

juga putihan (Jawa Barat). Ukurannya 3-5 cm. Selanjutnya benih kecil

dipelihara di kolam lain atau di sawah. Setelah dipelihara selama 3-1 minggu

akan dihasilkan benih berukuran 6 cm dengan berat 8-10 gram/ekor. Benih

ini disebut gelondongan kecil. Benih nila merah. Berumur 2-3 minggu,

ukurannya ± 5 cm. Gelondongan kecil dipelihara di tempat lain lagi selama 1-

1,5 bulan. Pada umur ini panjang benih telah mencapai 10-12 cm dengan

berat 15-20 gram. Benih ini disebut gelondongan besar.

6.3. Pemeliharaan Pembesaran

Dua minggu sebelum dan dipergunakan kolam harus dipersiapkan. Dasar

kolam dikeringkan, dijemur beberapa hari, dibersihkan dari rerumputan dan

dicangkul sambil diratakan. Tanggul dan pintu air diperbaiki jangan sampai

teriadi kebocoran. Saluran air diperbaiki agar jalan air lancar. Dipasang

saringan pada pintu pemasukan maupun pengeluaran air. Tanah dasar dikapur

untuk memperbaiki pH tanah dan memberantas hamanya. Untuk mi

dipergunakan kapur tohor sebanyak 100-300 kg/ha (bila dipakai kapur panas,

Ca 0). Kalau dipakai kapur pertanian dosisnya 500-1.000 kg/ha. Pupuk

kandang ditabur dan diaduk dengan tanah dasar kolam. Dapat juga pupuk

kandang dionggokkan di depan pintu air pemasukan agar bila diairi dapat

tersebar merata. Dosis pupuk kandang 1-2 ton/ha. Setelah semuanya siap,

kolam diairi. Mula-mula sedalam 5-10 cm dan dibiarkan 2-3 hari agar teriadi

mineralisasi tanah dasar kolam.Lalu tambahkan air lagi sampai kedalaman 80-

100 cm. Kini kolam siap untuk ditebari induk ikan.

1) Pemupukan

Pemupukan dengan jenis pupuk organik, anorganik (Urea dan TSP), serta

kapur. Cara pemupukan dan dosis yang diterapkan sesuai dengan standar

yang ditentukan oleh dinas perikanan daerah setempat, sesuai dengan

tingkat kesuburan di tiap daerah.

Beberapa hari sebelum penebaran benih ikan, kolam harus dipersiapkan

dahulu. Pematang dan pintu air kolam diperbaiki, kemudian dasar kolam

dicangkul dan diratakan.

Setelah itu, dasar kolam ditaburi kapur sebanyak 100-150 kg/ha.

Pengapuran berfungsi untuk menaikkan nilai pH kolam menjadi 7,0-8,0 dan

juga dapat mencegah serangan penyakit. Selanjutnya kolam diberi pupuk

organik sebanyak 300-1.000 kg/ha. Pupuk Urea dan TSP juga diberikan

sebanyak 50 kg/ha. Urea dan TSP diberikan dengan dicampur terlebih

dahulu dan ditebarkan merata di dasar kolam.

Selesai pemupukan kalam diairi sedalam 10 cm dan dibiarkan 3-4 hari agar

terjadi reaksi antara berbagai macam pupuk dan kapur dengan tanah. Han

kelima air kolam ditambah sampai menjadi sedalam 50 cm. Setelah sehari

semalam, air kolam tersebut ditebari benih ikan. Pada saat itu fitoplankton

mulai tumbuh yang ditandai dengan perubahan warna air kolam menjadi

kuning kehijauan. Di dasar kolam juga mulai banyak terdapat organisme

renik yang berupa kutu air, jentik-jentik serangga, cacing, anak-anak siput

dan sebagainya. Selama pemeliharaan ikan, air kolam diatur sedalam 75-

100 cm. Pemupukan susulan harus dilakukan 2 minggu sekali, yaitu pada

saat makanan alami sudah mulai habis.

Pupuk susulan ini menggunakan pupuk organik sebanyak 500 kglha. Pupuk

itu dibagi menjadi empat dan masing-masing dimasukkan ke dalam

keranjang bambu. Kemudian keranjang diletakkan di dasar kolam, dua bush

di kin dan dua buah di sisi kanan aliran air masuk. Sedangkan yang dua

keranjang lagi diletakkan di sudut-sudut kolam.

Urea dan TSP masing-masing sebanyak 30 kg/ha diletakkan di dalam

kantong plastik yang diberi lubang-lubang kecil agar pupuk sedikit demi

sedikit. Kantong pupuk tersebut digantungkan sebatang bambu yang

dipancangkan di dasar kolam. Posisi ng terendam tetapi tidak sampai ke

dasar kolam. Selain pukan ulang. ikan nila juga harus tetap diberi dedak dan

katul. pemupukan di atas dapat dilakukan untuk kolam air tawar, payau atau

sawah yang diberakan.

2) Pemberian Pakan

Pemupukan kolam telah merangsang tumbuhnya fitoplankton, zooplankton,

maupun binatang yang hidup di dasar, seperti cacing, siput, jentik-jentik

nyamuk dan chironomus (cuk). Semua itu dapat menjadi makanan ikan nila.

Namun, induk ikan nila juga masih perlu pakan tambahan berupa pelet yang

mengandung protein 30-40% dengan kandungan lemak tidak lebih dan 3%.

Pembentukan telur pada ikan memerlukan bahan protein yang cukup di

dalam pakannya. Perlu pula ditambahkan vitamin E dan C yang berasal dan

taoge dan daun-daunan/sayuran yang duris-iris. Boleh juga diberi makan

tumbuhan air seperti ganggeng (Hydrilla). Banyaknya pelet sebagai pakan

induk kira-kira 3% berat biomassa per han. Agar diketahui berat bio massa

maka diambil sampel 10 ekor ikan, ditimbang, dan dirata-ratakan beratnya.

Berat rata-rata yang diperoleh dikalikan dengan jumlah seluruh ikan di dalam

kolam. Misal, berat rata-rata ikan 220 gram, jumlah ikan 90 ekor maka berat

biomassa 220 x 90 = 19.800 g. Jumlah ransum per han 3% x 19.800 gram =

594 gram. Ransum ini diberikan 2-3 kali sehari. Bahan pakan yang banyak

mengandung lemak seperti bungkil kacang dan bungkil kelapa tidak baik

untuk induk ikan. Apalagi kalau han tersebut sudah berbau tengik. Dedak

halus dan bekatul boleh diberikan sebagai pakan. Bahan pakan seperti itu

juga berfungsi untuk menambah kesuburan kolam.

3) Pemeliharaan Kolam/Tambak

Sistem dan intensitas pemeliharaan ikan nila tergantung pada tempat

pemeliharaan dan input yang tersedia.Target produksi harus disesuaikan

dengan permintaan pasar. Biasanya konsumen menghendaki jumlah dan

ukuran ikan yang berbeda-beda. Intensitas usaha dibagi dalam tiga tingkat,

yaitu

  1. a) Sistem ekstenslf (teknologi sederhana)

– Sistem ekstensif merupakan sistem pemeliharaan ikan yang belum

berkembang. Input produksinya sangat sederhana. Biasanya dilakukan

di kolam air tawar. Dapat pula dilakukan di sawah. Pengairan

tergantung kepada musim hujan. Kolam yang digunakan biasanya

kolam pekarangan yang sempit. Hasil ikannya hanya untuk konsumsi

keluarga sendiri. Sistem pemeliharaannya secara polikultur. Sistem ini

telah dipopulerkan di wilayah desa miskin.

– Pemupukan tidak diterapkan secara khusus. Ikan diberi pakan berupa

bahan makanan yang terbuang, seperti sisa-sisa dapur limbah

pertanian (dedak, bungkil kelapa dll.).

– Perkiraan pemanenan tidak tentu. Ikan yang sudah agak besar dapat

dipanen sewaktu-waktu. Hasil pemeliharaan sistem ekstensif sebenar

cukup lumayan, karena pemanenannya bertahap. Untuk kolam

herukuran 2 x 1 x 1 m ditebarkan benih ikan nila sebanyak 20 ruang

berukuran 30 ekor. Setelah 2 bulan diambil 10 ekor, dipelihara 3 bulan

kemudian beranak, demikian seterus. Total produksi sistem ini dapat

mencapai 1.000 kg/ha/tahun 2 bln. Penggantian air kolam

menggunakan air sumur. Penggantian dilakukan seminggu sekali.

  1. b) Sistem semi-Intensif (teknologi madya)

– Pemeliharaan semi-intensif dapat dilakukan di kolam, di tambak, di

sawah, dan di jaring apung. Pemeliharaan ini biasanya digunakan untuk

pendederan. Dalam sistem ini sudah dilakukan pemupukan dan

pemberian pakan tambahan yang teratur.

– Prasarana berupa saluran irigasi cukup baik sehingga kolam dapat

berproduksi 2-3 kali per tahun. Selain itu, penggantian air juga dapat

dilakukan secara rutin. Pemeliharaan ikan di sawah hanya

membutuhkan waktu 2-2,5 bulan karena bersamaan dengan tanaman

padi atau sebagai penyelang. OIeh karena itu, hasil ikan dan sawah

ukurannya tak lebih dari 50 gr. Itu pun kalau benih yang dipelihara

sudah berupa benih gelondongan besar.

– Budi daya ikan nila secara semi-intensif di kolam dapat dilakukan

secara monokultur maupun secara polikultur. Pada monokultur

sebaiknya dipakai sistem tunggal kelamin. Hal mi karena nila jantan

lebih cepat tumbuh dan ikan nila betina.

– Sistem semi-intensif juga dapat dilakukan secara terpadu (intergrated),

artinya kolam ikan dikelola bersama dengan usaha tani lain maupun

dengan industri rumah tangga. Misal usaha ternak kambing, itik dan

sebagainya. Kandang dibuat di atas kolam agar kotoran ternak menjadi

pupuk untuk kolam.

– Usaha tani kangkung, genjer dan sayuran lainnya juga dapat dipelihara

bersama ikan nila. Limbah sayuran menjadi pupuk dan pakan

tambahan bagi ikan. Sedangkan lumpur yang kotor dan kolam ikan

dapat menjadi pupuk bagi kebun sayuran.

– Usaha huler/penggilingan padi mempunyai hasil sampingan berupa

dedak dan katul. Oleh karena itu, sebaiknya dibangun kolam ikan di

dekat penggilingan tersebut.

– Hasil penelitian Balai Penelitian Perikanan sistem integrated dapat

menghasilkan ikan sampai 5 ton atau lebih per 1 ha/tahun.

  1. c) Sistem intensif (teknologi maju)

– Sistem pemeliharaan intensif adalah sistem pemeliharaan ikan paling

modern. Produksi ikan tinggi sampai sangat tinggi disesuaikan dengan

kebutuhan pasar.

– Pemeliharaan dapat dilakukan di kolam atau tambak air payau dan

pengairan yang baik. Pergantian air dapat dilakukan sesering mungkin

sesuai dengan tingkat kepadatan ikan. Volume air yang diganti setiap

hari sebanyak 20% atau bahkan lebih.

– Pada usaha intensif, benih ikan nita yang dipelihara harus tunggal dain

jantan saja. Pakan yang diberikan juga harus bermutu.

– Ransum hariannya 3% dan berat biomassa ikan per hari. makanan

sebaiknya berupa pelet yang berkadar protein 25-26%, lemak 6-8%.

Pemberian pakan sebaiknya dilakukan oleh teknisinya sendiri dapat diamati

nafsu makan ikan-ikan itu. Pakan yang diberikan knya habis dalam waktu 5

menit. Jika pakan tidak habis dalam waktu 5 menit berarti ikan mendapat

gangguan. Gangguan itu berupa serangan penyakit, perubahan kualitas air,

udara panas, terlalu sering diberi pakan.

Baca Artikel Lainnya: