Disiplin Dalam Belajar

Disiplin Dalam Belajar

Disiplin Dalam Belajar

Disiplin Dalam Belajar
Disiplin Dalam Belajar

Pengertian Disiplin Dalam Belajar

Disiplin adalah kepatuhan terhadap peraturan atau tunduk pada pengawasan atau pengendalian. Kedua disiplin yang bertujuan mengembangkan watak agar dapat mengendalikan diri, agar berprilaku tertib dan efisien. Sedangkan disiplin menurut Djamarah adalah “Suatu tata tertib yang dapat mengatur tatanan kehidupan pridadi dan kelompok”. Kedisiplinan mempunyai peranan penting dalam mencapai tujuan pendidikan. Berkualitas atau tidaknya belajar siswa sangat dipengaruhi oleh paktor yang paling pokok yaitu kedispilan, disamping paktor lingkungan, baik keluarga, sekolah, kedisiplinan setra bakat siswa itu sendiri.

Belajar adalah suatu panggilan hidup karena tanpa belajar akan mengakibatkan menurunya kualitas diri seseorang. Penjelasannya, melalui belajarlah seseorang akan menjadi sadar akan dirinya dan lebih baik dalam menjalani kehidupannya yang penuh warna-warni. Hanya saja untuk belajar secara konsisten tidaklah segampang yang dikira karena membutuhkan kesadaran diri, dimana kesadaran diri tersebut dapat termanifestasi dalam disiplin belajar. Definisi disiplin belajar sangat banyak dari ahli-ahli pembelajaran, namun dalam tulisan ini akan menggunakan pengertian disiplin belajar menurut penulis sendiri. Tepatnya, disiplin belajar adalah kesadaran diri untuk mengendalikan atau mengontrol dirinya untuk sungguh-sungguh belajar.

Berpijak pada definisi tersebut, diketahui bahwa disiplin belajar sebenarnya suatu bentuk kesadaran diri untuk mengendalikan dirinya. Dalam hal ini, disiplin belajar berfungsi sebagai pengendali diri yang berada pada diri orang tersebut sehingga belajar akan penuh kesadaran, tanpa paksaan dan penuh sukacita/bersyukur. Spesifikya yaitu orang yang berdisiplin belajar akan belajar tanpa paksaan dan sadar untuk belajar dan belajar. Memang untuk mengaplikasikan pengertian disiplin belajar ini tidaklah mudah tetapi tidak berarti tidak mungkin berhasil. Karena untuk mampu disiplin dalam belajar memerlukan suatu perenungan untuk terus bertanya pada diri mengapa saya harus belajar hingga orang tersebut memperoleh suatu alasan yang mendalam dan memuat spiritualitas, emosi dan kognitif mengapa harus belajar.

  1. Jenis-Jenis Disiplin Dalam Belajar

Adapun macam disiplin berdasarkan ruang ligkup berlakunya ketentuan atau peraturan yang harus dipatuhi, dapat dibedakan sebagai berikut :

  1. Disiplin diri

Disiplin diri (disiplin pribadi atau swadisiplin), yaitu apabila peraturan-peraturan atau ketentuan-ketentuan itu hanya berlaku bagi diri seseorang. Misalnya, disiplin belajar, disiplin bekerja, dan disiplin beribadah.

  1. Disiplin sosial

Disiplin sosial adalah apabila ketentuan-ketentuan atau peraturan-peraturan itu harus dipatuhi oleh orang banyak atau masarakat. Misalnya, disiplin lalu lintas, dan disiplin menghadiri rapat.

  1. Disiplin nasional

Disiplin nasional adalah apabila peraturan-peraturan atau ketentuan-ketentuan itu merupakan tata laku bangsa atau norma kehidupan berbangsa dan bernegara yang harus dipatuhi oleh seluruh rakyat. Misalnya, disiplin membayar pajak dan disiplin mengikuti upacara bendera.

Adapun yang dimaksud dengan kedisiplinan siswa dalam penelitian ini adalah keaktifan siswa dalam mengikuti pelajaran di kelas dan kaitannya dengan prestasi belajar yaitu:

  1. Disiplin siswa dalam menentukan dan menggunakan cara atau strategi belajar

Keberhasilan siswa dalam studinya dipengaruhi oleh cara belajarnya. Siswa yang memiliki cara belajar yang efektip memungkinkan untuk mencapai hasil atau prestasi yang lebih tinggi dari pada siswa yang tidak mempunyai cara belajar yang efektip.

Untuk belajar secara efektip dan efisien diperlukan kesadaran dan disiplin tinggi setiap siswa. Belajar secara efektip dan efisien dapat dilakukan oleh siswa yang berdisiplin. Siswa yang memiliki disiplin dalam belajarnya akan berusaha mengatur dan menggunakan strategi dan cara belajar yang tepat baginya. Jadi langkah pertama yang perlu dimiliki agar dapat belajar secara efektip dan efisien adalah kesadaran atas tanggung jawab pribadi dan keyakinan bahwa belajar adalah untuk kepentingan diri sendiri, dilakukan sendiri dan tidak menggantungkan nasib pada orang lain.

  1. Disiplin terhadap pemanfaatan waktu

Salah satu masalah yang sering dihadapi oleh pelajar atau siswa adalah banyak pelajar atau siswa yang mengeluh kekuragan waktu untuk belajarnya, tetapi mereka sebenarnya kurang memiliki keteraturan dan disiplin untuk mempergunakan waktu secara efisien. Banyak waktu yang terbuang-buang disebabkan karna mengobrol omongan-omongan yang tidak habis-habisn. Sikap yang demikian itu harus ditinggalkan oleh siswa karena yang demikian itu tidak bermanfaat baginya.

Keterampilan mengatur waktu merupakan suatu keterampilan yang sangat penting, bahkan ada ahli keterampilan studi yang berpendapat bahwa ”keterampilan mengelola waktu dan menggunakan waktu secara efisien merupakan hal yang terpenting dalam masa studi maupun seluruh kehidupan siswa”(The Liang gie, Cara Belajar Yang Efisien(Yogyakarta: liberti Yogyakarta,1995), h. 167.).

Hal ini ditegaskan oleh Harry Shaw sebagai berikut :

”Learning to use time is a valuable skill, one that will play dividends not only in studying but all through life. In fact, the ability to use time efficiently may well be one of the most significant achiements of your entire life. (Belajar menggunakan waktu merupakan suatu keterampilan perolehan yang berharga, keterampilan yang memberikan keuntungan-keuntungan tidak saja dalam studi, melainkan sepanjang hidup. Sesungguhnya, kemampuan menggunakan waktu secaara efisien dapat merupakan salah satu prestasi yang terpenting dari seluruh hidup anda) (Ibid h. ,167).

  1. Disiplin terhadap tugas.

Salah satu prinsip belajar adalah ulangan dan latihan. Sejalan dengan pendapat yang mengatakan bahwa : ”Mengerjakan tugas dapat berupa pengerjaan tes atau ulangan atau ujian yang diberikan guru, tetapi juga termasuk membuat atau mengerjakan latihan-latihan yang ada dalam buku ataupun soal-soal buatan sendiri”(Slameto, Belajar Dan Faktor-Fakto yang Mempengaruhinya(Jakarta: Rineka Cipta,2003), h. 87.).

Berdasarkan pendapat tersebut di atas maka, tugas itu dapat berupa tes atau ulangan dan juga dapat berupa latihan-latihan soal atau pekerjaan rumah.jika siswa mempunyai kebiasaan untuk melatih diri mengerjakan soal-soal latihan serta mengerjakan pekerjaan rumah dengan disiplin, maka siswa tersebut tidak akan terlalu kesulitan dalam belajarnya, serta dapat dengan mudah mengerjakan setiap pekerjaan rumah yang diberikan oleh guru.

  1. Disiplin terhadap tata tertib

Didalam proses balajar mengajar, disiplin terhadap tata tertib sangat penting untuk diterapkan, karna dalam suatu sekolah tidak memiliki tata tertib maka proses belajar mengajar tidak akan berjalan dengan lancar sesuai dengan rencana,

Hal ini sesuai dengan pendapat yang menyatakan bahwa : ”Peraturan tata tertib merupakan sesuatu untuk mengatur prilaku yang diharapkan terjadi pada diri siswa” (Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek(Jakarja: Rineka Cipta,1993),h. 122.). Antara peraturan dan tata tertib merupakan suatu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan sebagai pembentukan disiplin siswa dalam mentaati peraturan di dalam kelas maupun diluar kelas.

Untuk melakukan disiplin terhadap tata tertib dengan baik, maka guru bertanggung jawab menyampaikan dan mengontrol berlakunya peraturan dan tata tertib tersebut. Dalam hal ini staf sekolah atau guru perlu terjalinnya kerja sama sehingga tercipta disiplin kelas dan tata tertip kelas yang baik tampa adanya kerja sama tersebut dalam pembinaan disiplin sekolah maka akan terjadi pelanggaran terhadap peraturan dan tata tertip sekolah serta terciptanya suasana balajar yang tidak diinginkan.

  1. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Disiplin Dalam Belajar

Pada dasarnya banyak faktor yang mempengaruhi tingkat kedisiplinan siswa suatu sekolah, diantaranya :

  1. Tujuan dan kemampuan

Tujuan dan kemampuan ikut mempengaruhi tingkat kedisiplinan siswa. Tujuan yang  akan dicapai harus jelas dan ditetapkan secara ideal serta cukup menantang bagi kemampuan siswa. Hal ini berarti bahwa tujuan (pelajaran) yang dibebankan kepada siswa harus sesuai dengan kemampuan siswa bersangkutan, agar belajar sungguh-sungguh dan disiplin dalam mengerjakannya. Akan tetapi, jika pelajaran itu di luar kemampuannya atau jauh di bawah kemampuannya maka kesungguhan dan kedisiplinan siswa rendah.

  1. Teladan Guru

Teladan guru sangat berperan dalam menentukan kedisiplinan siswa karena guru dijadikan teladan dan panutan oleh para siswanya. Guru harus memberi contoh yang baik, jujur, adil, serta sesuai kata dengan perbuatan. Dengan teladan guru yang baik, kedisiplinan siswa pun akan ikut baik. Jika teladan guru kurang baik (kurang berdisiplin), para siswa pun akan kurang disiplin. Guru jangan mengharapkan kedisiplinan siswanya baik jika dia sendiri kurang disiplin. Guru harus menyadari bahwa perilakunya akan dicontoh dan diteladani siswanya, Hal inilah yang mengharuskan guru mempunyai kedisiplinan yang baik agar para siswa pun mempunyai disiplin yang baik pula.

  1. Balas jasa

Balas jasa ikut mempengaruhi kedisiplinan siswa karena balas jasa akan memberikan kepuasan dan kecintaan siswa terhadap sekolah/pelajarannya. Jika kecintaan siswa semakin baik terhadap pelajaran, kedisiplinan mereka akan semakin baik pula. Untuk mewujudkan kedisiplinan siswa yang baik, sekolah harus memberikan balas jasa yang sesuai.

  1. Keadilan

Keadilan ikut mendorong terwujudnya kedisiplinan siswa, karena ego dan sifat manusia yang selalu merasa dirinya penting dan minta diperlakukan sama dengan manusia lainnya. Keadilan yang dijadikan dasar kebijaksanaan dalam pemberian balas jasa (pengakuan) atau hukuman akan merangsang terciptanya kedisiplinan siswa yang baik. Guru yang cakap dalam mengajar selalu berusaha bersikap adil terhadap semua siswanya. Dengan keadilan yang baik akan menciptakan kedisiplinan yang baik pula. Jadi, keadilan harus diterapkan dengan baik pada setiap sekolah supaya kedisiplinan siswa sekolah baik pula

  1.  Waskat

Waskat (pengawasan melekat) adalah tindakan nyata dan paling efektif dalam mewujudkan kedisiplinan siswa sekolah. Dengan waskat berarti guru harus aktif dan langsung mengawasi perilaku, moral, sikap, gairah belajar, dan prestasi belajar siswanya. Hal ini berarti guru harus selalu ada/hadir di sekolah agar dapat mengawasi dan memberikan petunjuk, jika ada siswanya yang mengalami kesulitan dalam menyelesaikan pelajarannya.

  1. Sangsi atau Hukuman

Sanksi hukuman berperan penting dalam memelihara kedisiplinan siswa. Dengan sanksi hukuman yang semakin berat, siswa akan semakin takut  melanggar peraturan-peraturan sekolah, sikap dan perilaku indispliner siswa akan berkurang. Berat/ringannya sanksi hukuman yang akan diterapkan ikut mempengaruhi baik/buruknya kedisiplinan siswa. Sanksi hukuman harus ditetapkan berdasarkan pertimbangan logis, masuk akal dan diinformasikan secara jelas kepada semua siswa. Sanksi hukuman seharusnya tidak terlalu ringan atau terlalu berat supaya hukuman itu tetap mendidik siswa untuk mengubah perilakunya. Sanksi hukuman hendaknya cukup wajar untuk setiap tingkatan yang indisiliner, bersifat mendidik dan menjadi alat motivasi untuk memelihara kedisiplinan dalam sekolah.

  1. Ketegasan

Ketegasan guru dalam melakukan tindakan akan mempengaruhi kedisiplinan siswa sekolah. Guru harus berani dan tegas, bertindak untuk menghukum setiap siswa yang indisipliner sesuai dengan sanksi hukuman yang telah ditetapkan. Guru yang berani bertindak tegas menerapkan hukuman bagi siswa yang indisipliner akan disegani dan diakui kedisiplinannya oleh siswa. Dengan demikian, guru akan dapat memelihara kedisiplinan siswa sekolah. Sebaliknya apabila seorang guru kurang tegas atau tidak menghukum siswa yang indisipliner, sulit baginya untuk memelihara kedisiplinan siswanya, bahkan sikap indisipliner siswa semakin banyak karena mereka beranggapan bahwa peraturan dan sanksi hukumannya tidak berlaku lagi. Guru yang tidak tegas menindak atau menghukum siswa yang melanggar peraturan, sebaiknya tidak usah membuat peraturan atau tata tertib pada sekolah tersebut.

  1. Hubungan kemanusiaan yang harmonis di antara sesama siswa ikut menciptakan kedisiplinan yang baik pada suatu sekolah. Hubungan-hubungan baik bersifat vertikal maupun horizontal yang terdiri dari direct single relationship, direct group arelationship dan cross relationship hendaknya harmonis. Guru harus berusaha menciptakan suasana hubungan kemanusiaan yang serasi serta mengikat, vertikal maupunhorizontal diantara semua siswanya. Terciptanya human relationship yang serasi akan mewujudkan lingkungan dan suasana belajar yang nyaman. Hal ini akan memotivasi kedisiplinan yang baik pada sekolah. Jadi, kedisiplinan siswa akan tercipta apabila hubungan kemanusiaan dalam sekolah tersebut baik.
  1. Implikasi Disiplin Terhadap Pembelajaran

Upaya – upaya pengembangan disiplin dan kemungkinannya yang dapat dilakukan dalam pelaksanaan (implementasi) disiplin dilapangan diantaranya adalah :

  1. Melalui kegiatan ekstrakulikuler, karena pada dasarnya konsep pelaksanaan kegiatan ini adalah pendidikan luar sekolah (nonformal) karena dilakukan tidak seperti sekolah formal pada umumnya, tidak terbagi berdasarkan kelas (kelas A, B, C, atau D) dan tingkatan (tingkat I, II, III). Kegiatan ekstrakulikuler biasanya dilakukan secara rutin minimal seminggu sekali. Melalui kegiatan inilah fasilitator dapat mengajarkan disiplin pada peserta didik.
  2. Mengembangkan pendidikan penyadaran. Artinya peserta didik disadarkan tentang peranan, tugas, serta tanggung jawabnya sebagai pribadi yang harus menjalani kehidupannya. Dengan disiplin hidp akan jauh lebih teratur dan terarah.
  3. Mengembangkan pemahaman yang berkaitan dengan manfaat disiplin bagi kehidupan pribadi serta manfaatnya untuk orang lain.
  4. Latihan pembiasaan. Tidak perlu menggunakan kekerasan namun tetap tegas. Karena dengan kekerasan tidak akan menyelesaikan masalah.
  5. Mengembangkan modeling atau contoh tokoh (orang yang dapat dijadikan panutan), sehingga lebih memacu minat peserta didik/masyarakat untuk melaksanakan disiplin.
  6. Fasilitator memahami dan menghargai pribadi peserta didik (masyarakat) dan tidak perlu memaksakan kehendak kepada mereka.
  7. Sosialisasi tentang pentingnya disiplin serta manfaatnya bagi diri pribadi peserta didik/warga belajar dan orang yang disekita mereka
  8. Melalui kegiatan pelatihan kepemimpinan. Dengan terbiasa bertindak sebagai pemimpin maka seseorang itu akan selalu melaksanakan disiplin dan menerapkannya pada orang lain.
  9. Melalui kegiatan yang dapat membangun karakter/kepribadian. Membangun karakter/kepribadian dalam hal ini adalah dengan membangkitkan sikap percaya diri dalam diri sesorang agar lebih paham tentang dirinya sendiri. Ia diberikan penjelasan ataupu si fasilitator menggali dan mengungkap kelebihan ataupun semua potensi yang terdapat dalam diri peserta didik/warga belajar tersebut.

Sumber: https://www.seputarpengetahuan.co.id/