jaketkulitgarut.co.id

Situs jaketkulitgarut.co.id yang membagikan informasi dunia teknologi informasi dan komunikasi , dan beberapa tips menarik.

Etiologi Fleksus Brakhialis

Etiologi Fleksus Brakhialis

       Etiologi trauma fleksus brakhialis pada bayi baru lahir. Trauma fleksus brakhialis pada bayi dapat terjadi karena beberapa faktor antara lain:

1)  Faktor bayi sendiri : makrosomia, presentasi ganda, letak sunsang, distosia bahu, malpresentasi, bayi kurang bulan

2) Faktor ibu : ibu sefalo pelvic disease (panggul ibu yang sempit), umur ibu yang sudah tua, adanya penyulit saat persalinan

3) Faktor penolong persalinan : tarikan yang berlebihan pada kepala dan leher saat menolong kelahiran bahu pada presentasi kepala, tarikan yang berlebihan pada bahu pada presentasi bokong.

Patofisiologis Fleksus Brakhialis

Bagian cord akar saraf dapat terjadi avulsi atau pleksus mengalami traksi atau kompresi. Setiap trauma yang meningkatkan jarak antara titik yang relatif fixed pada prevertebral fascia dan mid fore armakan melukai pleksus.
Traksi dan kompresi dapat juga menyebabkan iskemi, yang akan merusak pembuluh darah. Cedera pleksus brakialis dianggap disebabkan oleh traksi yang berlebihan diterapkan pada saraf. Cedera ini bisa disebabkan karena distosia bahu, penggunaan traksi yang berlebihan atau salah arah, atau hiperekstensi dari alat ekstraksi sungsang. Mekanisme ukuran panggul ibu dan ukuran bahu dan posisi janin selama proses persalinan untuk menentukan cedera pada pleksus brakialis. Secara umum, bahu anterior terlibat ketika distosia bahu, namun lengan posterior biasanya terpengaruh tanpa adanya distosia bahu. Karena traksi yang kuat diterapkan selama distosia bahu adalah mekanisme yang tidak bisa dipungkuri dapat menyebabkan cedera, cedera pleksus brakialis

Kompresi yang berat dapat menyebabkan hematome intraneural,dimana akan menjepit jaringan saraf sekitarnya.

  1. Tanda dan GejalaFleksus Brakhialis

                 Tanda dan gejala trauma fleksus brachialis antara lain :

  1. Gangguan motorik pada lengan atas
  2. Paralisis atau kelumpuhan pada lengan atas dan lengan bawah
  3. Lengan atas dalam keadaan ekstensi dan abduksi
  4. Jika anak diangkat maka lengan akan lemas dan tergantung
  5. Reflex moro negative
  6. Tangan tidak bisa menggenggam
  7. Reflex meraih dengan tangan tidak ada
  8. Komplikasi Trauma fleksus brakhialis
  9. Kontraksi otot yang abnormal (kontraktur)atau pengencangan otot-otot, yang mungkin menjadi permanen pada bahu, siku atau pergelangan tangan
  10. Permanen, parsial, atau total hilangnya fungsi saraf yang terkena, menyebabkan kelumpuhan lengan atau kelemahan lengan
  11. Penanganan Terhadap Trauma Fleksus Brakhialis

Penanganan atau penatalaksanaan kebidanan meliputi rujukan untuk membebat yang terkena dekat dengan tubuh dan konsultasi dengan tim pediatric. Penanganan terhadap trauma pleksus brakialis ditujukan untuk mempercepat penyembuhan serabut saraf yang rusak dan mencegah kemungkinan komplikasi lain seperti kontraksi otot. Upaya ini dilakukan antara lain dengan cara:

1) Pada trauma yang ringan yang hanya berupa edema atau perdarahan ringan pada pangkal saraf, fiksasi hanya dilakukan beberapa hari atau 1 – 2 minggu untuk memberi kesempatan penyembuhan yang kemudian diikuti program mobilisasi atau latihan.

2) Immobilisasi lengan yang lumpuh dalam posisi lengan atas abduksi 90 derajat, siku fleksi 90 derajat  disertai supine lengan bawah dan pergelangan tangan dalam keadaan ekstensi

3) Beri penguat atau bidai selama 1 – 2 minggu pertama kehidupannya dengan cara meletakkan tangan bayi yang lumpuh disebelah kepalanya.

4) Rujuk ke rumah sakit jika tidak bisa ditangani.

Penatalaksanaan dengan bentuk kuratif atau pengobatan. Pengobatan tergantung pada lokasi dan jenis cedera pada pleksus brakialis dan mungkin termasuk terapi okupasi dan fisik dan dalam beberapa kasus, pembedahan. Beberapa cedera pleksus brakialis menyembuhkan sendiri. Anak-anak dapat pulih atau sembuh dengan 3 sampai 4 bulan.

Prognosis juga tergantung pada lokasi dan jenis cedera pleksus brakialis menentukan prognosis. Untuk luka avulsion dan pecah tidak ada potensi untuk pemulihan kecuali rekoneksi bedah dilakukan pada waktu yang tepat. Untuk cedera neuroma dan neurapraxia potensi untuk pemulihan bervariasi. Kebanyakan pasien dengan cedera neurapraxia sembuh secara spontan dengan kembali 90-100% fungsi.

Penanganan lesi pleksus brachialis efektif bila cepat terdeteksi atau dimulai pada usia antara 3 sampai 6 bulan. Ada dua terapi utama untuk lesi pleksus brachialis yaitu :

  1. Latihan fisik melalui fisioterapi (occupational therapy)
  2. Penanganan bedah

Penanganan awal penderita lesi plekus brachialis pada bayi lebih difokuskan pada mempertahankan pergerakan seluruh sendi disamping terapi fisik sebagai antisipasi bila tidak terjadi perbaikan spontan dari fungsi saraf. Perbaikan spontan terjadi pada umumnya pada sebagian besar kasus dengan terapi fisik sebagai satu-satunya penanganan. Ada atau tidaknya fungsi motorik pada 2 sampai 6 bulan pertama merupakan acuan dibutuhkannya penanganan bedah. Graft bedah mikro untuk komponen utama pleksus brachialis dapat dilakukan pada kasus-kasus avulsi akar saraf atau ruptur yang tidak mengalami perbaikan.

 Penanganan sekunder dapat dilakukan pada pasien bayi sampai orang dewasa. Prosedur ini lebih umum dilakukan daripada bedah mikro dan dapat juga dilakukan sebagai kelanjutan bedah mikro. Penanganan bedah ini meliputi soft-tissue release, osteotomi, dan transfer tendo (Dr. Kumar Kadiyala). 9
Semua graft saraf yang dibuat pada operasi diimobilisasi selama 2 sampai 6 minggu. Rehabilitasi sempurna diharapkan mulai setelah 6 minggu. Kemudian dilanjutkan dengan fisoterapi setelah 6 minggu dan follow up setiap 3 bulan.

 

Baca juga:

jaketkulitgarut

Kembali ke atas