Hikmah Diturunkannya Al-Qur’an Secara Berangsur-Angsur

Hikmah Diturunkannya Al-Qur’an Secara Berangsur-Angsur

Hikmah Diturunkannya Al-Qur’an Secara Berangsur-Angsur

Hikmah Diturunkannya Al-Qur’an Secara Berangsur-Angsur
Hikmah Diturunkannya Al-Qur’an Secara Berangsur-Angsur

 

1. Menetapkan hati Rasulullah

Yang menjadi pertanyaan kenapa hati Rasulullah perlu di-tatsbit-kan? Hal itu dikarenakan Nabi berdakwah kepada orang banyak selalu saja mendapat tantangan dari orang-orang yang anti kepadanya, tambah lagi sifat orang-orang tersebut kasar dan bengis serta tidak menunjukkan sikap yang bersahabat. Maka hal seperti itu perlu diberi semangat dan kekuatan kepada Rasul bahwa apa yang dialaminya itu semua dengan yang dialami oleh nabi-nabi dan para rasul terdahulu.

2. Untuk melemahkan lawan-lawannya (mukjizat)

Orang-orang yang anti kepada Rasulullah senantiasa melakukan upaya yang dapat menyudutkannya. Di antara upaya tersebut adalah dengan mengajukan tantangan yang sepertinya Rasulullah tidak dapat membuktikannya. Misalnya tantangan mereka agar Rasulullah minta kepada Allah untuk menurunkan azab kepada mereka. Apa yang mereka minta itu dibuktikan oleh Allah, dan Allah menurunkan azab kepada mereka pada waktu itu juga.

Baca Juga: Rukun Islam

3. Mudah dipahami dan dihafal

Bagi bangsa yang buta huruf sulit dapat menghafal dan memehami sesuatu yang harus dipahami atau dihafal. Oleh karena itu, diturunkan Alquran secara berangsur-angsur menjadi mudah dihafal dan dipahami serta diamalkan.

4. Sesuai dengan lalu lintas peristiwa atau kejadian

Alquran diturunkan sesuai dengan kejadian atau peristiwa-peristiwa yang muncul pada waktu itu, misalnya peristiwa tayamum sabagai pengganti wudhu ketika tidak diperoleh air.

5. Menguatkan bahwa Al-Qur’an benar-benar dari Allah yang Maha Bijaksana dan Maha Terpuji

Ketika Al-Qur’an turun berangsur-angsur dalam kurun lebih dari 22 tahun, kemudian menjadi rangkaian yang sangat cermat dan penuh makna, indah dan fasih gaya bahasanya, terjalin antara satu ayat dengan ayat lainnya bagaikan untaian mutiara, serta ketiadaan pertentangan di dalamnya, semakin menguatkan bahwa Al-Qur’an benar-benar kalam ilahi, Dzat yang Maha Bijaksana lagi Maha Terpuji.