Kisah Neneh Hasanah, Nenek 84 Tahun yang Masih Semangat Mengajar

Kisah Neneh Hasanah, Nenek 84 Tahun yang Masih Semangat Mengajar

Kisah Neneh Hasanah, Nenek 84 Tahun yang Masih Semangat Mengajar

Kisah Neneh Hasanah, Nenek 84 Tahun yang Masih Semangat Mengajar
Kisah Neneh Hasanah, Nenek 84 Tahun yang Masih Semangat Mengajar

Tak berlebihan rasanya bila kita memberi gelar sosok Neneh Hasanah

(84 tahun) sebagai pahlawan pendidikan di Sukabumi, atas dedikasinya. Di usia yang sudah tidak muda lagi, ia masih aktif mengajar di sekolah miliknya, Yayasan Pendidikan Islam (YPI) Assahriyah Diniyah Takmiliyah Awaliyah (DTA) Misbahul Aulad, Kampung Ciseupan Hilir RT 03/06 Desa Seuseupan, Kecamatan Caringin, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat.
Saat tubuhnya masih aduhai, dahulu kala, Neneh sempat aktif di kegiatan Posyandu. Namun, hal menarik lainnya datang dari perjalanan hidup Neneh, yang ternyata dibesarkan oleh orang tua asuh. Diwawancarai langsung sukabumiupdate.com, Minggu (19/1/2020), Neneh menuturkan, saat ia berusia tujuh hari, dirinya diberikan oleh ibu kandungnya kepada orang lain karena ibu dan ayah kandungnya telah bercerai.
“Setelah itu, saya diurus oleh orang tua angkat dan dimasukkan ke sekolah di Cijengkol. Saat akan kenaikan kelas, bapak angkat saya meninggal. Sejak saat itu saya dilanjutkan diurus oleh guru agama saya. Kata guru agama saya itu, saya belajar sekaligus mengajar saja. Akhirnya saya disekolahkan ke Tsanawiyah, sambil malamnya mengajar para santri. Jadi, wali saya saat itu ya guru agama,” tutur Neneh.
Untitled Image

Bangunan YPI Assahriyah Diniyah Takmiliyah Awaliyah

(DTA) Misbahul Aulad di Desa Seuseupan Kecamatan Caringin Kabupaten Sukabumi, tempat Mak Neneh biasa mengajar. | Sumber Foto: Oksa BC
Saat akan ujian di Tsanawiyah, lanjut Neneh, ia ditanya oleh ayah kepala sekolah (Ajengan atau Kiai), siapa ibu dan bapak yang sebenarnya. Ia menjawab saya tidak tahu, sambung Neneh.
ADVERTISEMENT
“Waktu itu saya mau menerima ijazah. Setelah itu, ditanyakanlah ke Kepala Desa, dan kata Kepala Desa, yang sekarang menjadi wali saya itu adalah bapak angkat dan katanya ibu kandung saya ada di Puncak Cipanas,” imbuhnya.
Kisah perjalanan hidup Neneh tak cukup sampai di sana. Singkat cerita, saat Neneh lulus dari Tsanawiyah, ia mengaku akan mengikuti ujian masuk sekolah guru di Sukabumi. Ia meminta izin kepada ibu angkatnya, namun sang ibu melarangnya dengan alasan khawatir karena Neneh seorang perempuan.
“Akhirnya saya hanya meminta doa dan tidak meminta uang kepada ibu. Alhamdulillah saya lolos. Tapi, saat itu ada teman yang mengajak mendaftar juga di PGA di Bogor dekat Empang dan lolos juga. Teman saya yang juga sudah tidak memiliki ayah itu, mengajak saya “menjual diri” (meminta bantuan, red) ke Bupati untuk memasrahkan diri, di mana pun ditempatkannya asal bisa lanjut belajar,” jelas Neneh.

Tapi ternyata, kata Neneh, obrolan ia dan temannya itu terdengar oleh seorang Kepala Sekolah Aliyah.

Hingga akhirnya, Kepala Sekolah Aliyah tersebut mengajak Neneh untuk tinggal bersama dan belajar di rumahnya.
“Karena buku pelajaran itu ada di rumah Pak Kepala. Tidak harus bayar, asal bantu-bantu. Kalau tidak ada yang mengerti katanya oleh bapak Kepala Aliyah-nya dikasih tahu. Kalau siangnya mengajar di Madrasah Diniyah. Setelah itu, saya pulang ke sini ke Desa Seuseupan dan dinikahkan oleh Kepala Aliyah dengan Bapak Oim, suami saya itu. Di sini kondisinya sudah ada santri dan sekolah, termasuk ibu-ibu di masjid. Kemudian saya mengajar di sini. Menikah tahun 1954,” tandas Neneh.

 

Baca Juga :