Pendidikan Kebidanan FK UNAIR Raih Predikat CoE

Pendidikan Kebidanan FK UNAIR Raih Predikat CoE

Pendidikan Kebidanan FK UNAIR Raih Predikat CoE

Pendidikan Kebidanan FK UNAIR Raih Predikat CoE
Pendidikan Kebidanan FK UNAIR Raih Predikat CoE

Program Studi Pendidikan Kebidanan Fakultas Kebidanan Universitas Airlangga terpilih menjadi salah satu Centre of Excellence (CoE) Pendidikan Kebidanan (midwifery) oleh UNFPA dan Canada pada tahun 2019. Award dari UNFPA ini diumumkan kepada publik pada siang ini, Senin (26/8/2019) di Novotel Samator Kedung Baruk.

Centre of Excellence (CoE) merupakan suatu program yang dibentuk oleh United Nation Population Fund (UNFPA) bekerjasama dengan Canada dalam upaya mencetak pendidikan kebidanan yang berkualitas tinggi.

UNFPA dengan dukungan dari pemerintah Canada, sebagai bagian dari program kerja sama UNFPA dengan Pemerintah Indonesia, mengembangkan program ini untuk mendapatkan manfaat dan membantu menyediakan mekanisme untuk perbaikan berkelanjutan di pra-layanan/pendidikan bidan serta praktik kebidanan di seluruh Indonesia.

Dekan Fakultas Kedokteran UNAIR, Prof Dr Soetojo dr SpU K mengaku senang dengan pencapaian CoE.
“Hari ini Fakultas Kebidanan resmi menjadi CoE ditingkat nasional, inikan suatu prestasi yang luar biasa. Kita akan perbaiki sarana dan prasarana, dosennya agar betul betul menjadi center of excellence,” ujar Prof Soetojo.

Dr. Baksono Winardi, dr SpOG K, Kepala Prodi Kebidanan juga mengatakan bahwa Kebidanan Unair

mendapatkan penghargaan ini setelah bersaing dengan 100 jurusan S1 Kebidanan dari seluruh Indonesia.

“Dengan adanya penghargaan tingkat nasional ini maka diharapkan dapat memberikan manfaat dan base terkait progam Kebidanan. Semoga juga bisa terus bergerak lebih maju ke arah Internasional,” ujar Baksono.

Pemilihan CoE melalui proses yang sangat panjang dan dengan standar yang sangat tinggi.

Institusi yang diijinkan mengikuti seleksi tahap lanjut adalah institusi dengan predikat A, pada akreditasi LAMPT-Kes. Program Studi Pendidikan Kebidanan FK Unair terpilih menjadi CoE pertama untuk Program Pendidikan Profesi Bidan di Indonesia. Empat (4) institusi lain yang terpilih, mewakili CoE Program Diploma Kebidanan.

Ia pun menambahkan bahwa tantangan tingginya Angka Kematian Ibu di Indonesia masih menjadi hal yang perlu dijawab multi disiplin dan profesi dan yang menjadi fokus CoE. Seiring dengan hal tersebut, menurut `Rencana Aksi Nasional untuk Kesehatan Ibu 2016-2030 dan Rencana Strategis Kesehatan 2015-2019′, Indonesia masih akan terus mengandalkan tenaga kerja kebidanan untuk menyediakan pelayanan kesehatan ibu, bayi baru lahir dan kesehatan reproduksi kepada penduduknya untuk masa mendatang.

Namun, meskipun jumlahnya sudah besar, ada estimasi yang menyarankan kebutuhan tambahan

sekitar 13.000 bidan lagi agar mencapai rekomendasi nasional dan/atau WHO untuk rasio `bidan per penduduk’, seperti yang ditunjukkan dalam Tinjauan Sistem Kesehatan nasional. Diperkirakan bahwa peningkatan jumlah bidan yang dibutuhkan akan dipenuhi melalui program pendidikan yang saat ini disediakan oleh lebih dari 700 sekolah kebidanan yang tersebar di Indonesia.

Sayangnya, sebagian besar sekolah kebidanan saat ini hanya fokus pada memenuhi jumlah lulusan, dengan kurang memberi perhatian pada kualitas dan kompetensi lulusan. Laporan dari BPPSDMK Kementerian Kesehatan menunjukkan bahwa hanya 43% sekolah kebidanan yang terakreditasi.

“Salah satu penyebabnya memang tidak meratanya kuantitas bidan di distribusi dan kompetensi yang kurang. Untuk itu di workshop ini juga akan diajarkan tentang Inter Professional Education yang terkait kolaberasi bidan, dokter, perawat. Untuk itu harapnya mampu meningkatkan kualitas bidan,” tambah dr Baksono.

 

Sumber :

https://www.quibblo.com/story/DbAy-wIG/What-Is-Explanation-Texts