jaketkulitgarut.co.id

Situs jaketkulitgarut.co.id yang membagikan informasi dunia teknologi informasi dan komunikasi , dan beberapa tips menarik.

  Pengertian Identitas

  Pengertian Identitas

  Pengertian Identitas
Secara etimologis,identitas  berasal  dari  kata “identity” yang  memiliki arti  harfiah:  ciri,tanda,atau  jati  diri  yang melekat  pada  seseorang,kelompok  atau  sesuatu  sehingga  membedakan  dengan  yang  lain.  Dengan  demikian identitas  berarti  ciri-ciri,  tanda-tanda  atau  jati  diri  yang  dimiliki  seorang kelompok,  masyarakat  bahkan  suatu  bangsa  sehingga  dengan  identitas  itu bisa membedakan dengan yang lain.
Dalam  terminologi  antropologi,  identitas  adalah  sifat  khas  yang  menerangkan  dan  sesuai  dengan  kesadaran  diri  pribadi  sendiri,  golongan  sendiri, kelompok  sendiri, komunitas sendiri, atau  negara  sendiri.  Mengacu pada  pengertian  ini  identitas  tidak  terbatas  pada  individu  semata,  tetapi berlaku pula pada suatu kelompok.
Identitas  bagi  kebanyakan  orang  adalah  selembar  kartu  nama  yang mengukuhkan  keberadaan  mereka  dengan  sebuah  nama,  profesi  dan kedudukan.  Memperhatikan  khaos  yang  terjadi  selama  sepuluh  tahun terakhir,  saya  merasa  ada  perlunya  untuk  mendalami  makna  identitas.  Karena identitas  ternyata adalah biang yang memporakporandakan  berbagai   negara, memecahbelahkan bangsa-bangsa, dan  memposisikan manusia  yang paling  tidak  politis  sekali  pun  di  satu  sudut  ruang  berseberangan  dengan berbagai perbedaan yang berpotensi konflik.  Apa yang membedakan kita atas nama kepercayaan, suku, dan bangsa, sudah  terjadi  sejak  kita  dilahirkan.  Tanpa  kita  sadari  ketika  kita  dilahirkansebuah  predikat  langsung  melekat  pada  keberadaan  kita.  Nama  kita mengikat kita pada satu keluarga, satu kepercayaan, satu komunitas dan satu bangsa.
Identitas  adalah  sebentang  Mobius  yang  melilit.  Di  satu  sisi,  ia mengukuhkan  kebersamaan  satu  kelompok,  keselarasan  visi  dan  ambisi, namun atas  atas  nama  kemajuan,  prestasi  dan  kebersamaan, ia  juga  mampu secara  brutal menghancurkan pihak  yang dinilai mengancam  azas-azas yang mengukuhkan  kelompoknya.  Tindakan  anarkis  dianggap  sah  karena  ia membela kedaulatan  kelompok.  Tak  ayal lagi,  inilah insting  survival  purba yang kita wariskan dari  leluhurkita sejak zaman Neolitik.  Sebaliknya,  kita  bisa  memaknakan  identitas  dengan  parameter  yang   lebih  luas.  Identitas,  menurut  Amin  Maalouf,  sekaligus  inklusif  dan  eksklusif.  Sebagai  contoh,  sebagai  warga  Indonesia  beretnis  Cina,  maka  saya  dianggap  warga  minoritas.  Tetapi  sebagai  anak  turunan  Cina,  saya termasuk  golongan  warga  terbesar  di  dunia.  Perbedaan  perspektif  ini  tergantung  dari  sudut  referensi  mana  kita  meneropong  kedudukan  kita. Sebaliknya,  sebagai  anak  turunan  Cina,  dilahirkan  di  Tebing  Tinggi, Sumatera Utara, menulis tiga novel dalam bahasa Inggris, membesut sebuah film  tentang  seorang  pegawai  kecil  di  bagian  arsip  dan  bermukim  di   kawasan  Lebak  Bulus, saya  menjadi  sangat unik,  karena  tidak  ada manusia lain  selain  saya  yang  menyandang  predikat  seperti  ini.  Tetapi  kalau  kita   meneliti  ini  lebih  dalam,  maka  kita  akan  menyimpulkan  bahwa individualitas ini sebenarnya tidak secara  keseluruhan murni, karena  ia juga  bermuatan  berbagai  elemen  eksklusif  yang  bertautan  dengan  berbagai manusia, lepas dari  kepercayaan, suku maupun kebangsaan. Sebagai contoh,  saya  berbagi  satu  hobi  membaca  dengan  berjuta-juta  manusia  lain.  Saya juga  punya  kesamaan  seperti  mereka  yang  suka  bakmi,  tahu,  ataupun  kue putu atau dengan mereka yang suka lagu-lagu Jeff Buckley.Perumpamaan  di  atas  secara  gamblang menunjukkan  betapa  fleksibel   sebenarnya identitas itu. Dalam skala makro,  keberadaan kita mau tidak mau bertautan  dengan  begitu  banyak  manusia  dari  latar  yang  berbeda-beda  dan tidak  terbatas  oleh  demarkasi  lokasi  ataupun  bangsa.  Ironisnya,  secara individu  pun  kita  tidak  mungkin  dikelompokkan  dalam  satu  kelompok karena  pada  dasarnya   kita  semua  sangat  berbeda.  Ini  terbukti  beberapa  waktu  yang  lalu  oleh  penelitian  proyek  genome  manusia,  di  mana ditegaskan  bahwa  DNA  manusia  adalah  sebuah  keajaiban  dari  ribuan  permutasi yang  sama  sekali  tidak  mungkin direplikasi.  DNA  kita  ibaratnya hasil  dari   sekali  tekanan  tombol  mesin  jackpot  dengan  ratusan  ikon  yang berbeda. Kemungkinan untuk memreplikasi susunan DNA yang sama,  sama sekali tidak ada.  Ilmu  pengetahuan  yang  tadinya  kita  harapkan  sebagai  bintang penyelamat  untuk  membebaskan  kita  dari  ortodoksi  identitas,  ternyata malah  membuat  kita  semakin  terjerumus  dalam  jurang  pemisah. Pengetahuan,  menurut  Michel  Foucault,  hanya  bisa  membangkitkan  lebih banyak  pengetahuan.  Michel  Foucault  memberi  contoh  seperti  ini:  seorang  dokter  yang  kena  flu  tahu  bagaimana  mengobati  dirinya  dengan  memilih obat yang  tepat, tapi  untuk kesehatan jiwanya  ia  tidak  mampu memberikan  preskripsi untuk dirinya. Karena untuk mengobati jiwanya ia membutuhkan lebih  dari  obat,  ia  perlu  melakukan  pelatihan-pelatihan  “  tehkne  tou  biou”  untuk  mencapai  satu  titik  konversi  “metanoai”.  Tehkne  tou  biou  ini  bukan sebuah  antidote,  seperti  antidote  untuk  flu,  tetapi  sebuah  perjalanan spiritualitas  yang  perlu  ditekuni  dalam  hidup  masing-masing.  Pengetahuan dalam  hal  ini  tidak  mampu  banyak  membantu,  karena  ia  justru  mengakibatkan  kita  terperangkap  dalam  sejarah,  tradisi  dan  segala  embel- embel  kepurbaan  yang  semakin  mengikat  kita  pada  satu  identitas.  Ia  tidak mendorong  kita  untuk  lebih  mendekat  pada  realitas  kehidupan  dalam  arti  sebenarnya. Alain  Badiou  dalam  bukunya  Ethics  mengupas  apa  yang  disebutnya sebagai  akronim  usang.  Seperti  kata-kata  Keadilan,  Demokrasi,  Cinta,  dan dalam  hal  ini  Identitas  juga  bisa  kita  masukkan  dalam  deretan  akronim abstrak  ini.  Sebagai  sebuah  term  kata  Identitas  seperti  juga  Keadilan  tidak punya  makna  yang  konkret.  Karena  ia  hanya  sebuah  term  abstrak.  Badiou ingin  menjelaskan  kepada  kita  bahwa  ketika  sebuah  kegiatan  dibakukan     menjadi  sebuah  simbol  ia  kehilangan  makna  aslinya.  Ketika  kita mengatakan  Keadilan   maka  makna  asli  dari  kata  itu,  yaitu  berlaku  adil,  segera  kehilangan  makna  aslinya.  Kita  tenggelam  dalam  sebuah  semesta  makna  yang  begitu luas sehingga keaslian  makna itu sendiri  menjadi kabur.  Kita  lupa  bahwa  Identitas  berangkat  dari  kata  kerja  yang  punya  makna   memperkenalkan diri, mengidentifikan diri orang  lain,  atau  menyatukan diri dengan  orang  lain.  Dengan  kata  lain,  dengan  merangkul  kata  identitas  kita menjadi lupa melakukan hal-hal yang berlaku untuk makna itu. Identitas  juga  bercermin  pada  Yang  Lain  (The  Other).  Ia  tidak  bisa  lepas  dari  pengakuan/pengukuhan  orang  lain.  Identitas  manusia  selama hidupnya dicerminkan oleh seperangkat opini orang lain. Identitas dalam hal  ini  terkandung  kesemuan  yang  menjadi  kenyataan  ketika  kita mengkonfirmasi  predikat-predikat  dari  orang  lain.  Ini  paradoks  yang  kita bawa  dari  lahir  yang  akan  terus  melekat  kecuali  kita  melakukan  sesuatu untuk  membebaskan   diri  dari  tirani  penafsiran  Yang  Lain.  Dari  penelitian  proyek genome manusia, kita diajarkan bahwa kita tidak mungkin bisa sama seperti  orang  lain,  sekalipun  kita  berusaha  keras.  Keunikan  setiap  individu sekaligus  adalah  kekuatan  diri dan kelemahannya.  Kekuatan karena dengan  memahami  keunikan  itu  kita tidak  tergoyahkan  oleh penafsiran  Yang  Lain. Kelemahannya  adalah  ketika  kita  berupaya  untuk  mengukuhkan  identitas itu.

sumber :

 

What’s Cooking?- Tasty Chef 1.1.2 Apk + Mod (Unlimited Money)

jaketkulitgarut

Kembali ke atas