jaketkulitgarut.co.id

Situs jaketkulitgarut.co.id yang membagikan informasi dunia teknologi informasi dan komunikasi , dan beberapa tips menarik.

Penjelasan Gempa dan Tsunami Pangandaran

Penjelasan Gempa dan Tsunami Pangandaran

Penjelasan Gempa dan Tsunami Pangandaran
Penjelasan Gempa dan Tsunami Pangandaran

Studi Mekanisme Gempa Pangandaran 2006 Secara Geodetik

Sebagai upaya pembelajaran bagaimana dapat memahami lebih karakteristik kegempaan dan tsunami di sekitar Pantai Selatan Jawa, untuk selanjutnya dijadikan bahan bagi langkah penanganan potensi gempa di masa yang datang khususnya di wilayah Pantai selatan Pangandaran dan sekitarnya, dan umumnya di deretan pantai selatan Jawa, maka salah satunya perlu untuk dilakukan penelitian mekanisme gempa bumi dan tsunami Pangandaran yang terjadi pada tanggal 17 Juli 2006, meski gempanya sudah terjadi.

Untuk melihat mekanisme dari gempa bumi dan tsunami di pangandaran tersebut dapat dilakukan salah satunya dengan memanfaatkan teknologi geodetik seperti Global Positioning System (GPS), untuk melihat deformasi yang mengiringi tahapan mekanisme terjadinya Gempa Bumi (coseismic dan postseismic). Studi mengenai tahapan coseismic dan postseismic gempa ini akan sangat berguna dalam melakukan evaluasi nilai potensi energi pasca Bencana Alam gempa bumi, untuk dijadikan input upaya mitigasi dimasa datang.

Selain pengukuran dengan GPS, pengukuran tinggi tsunami berdasarkan bukti-bukti fisik di lapangan juga penting untuk dilakukan untuk memodelkan energi gempa yang menyebabkan tsunami dengan lebih baik lagi. Sementara itu tak kalah pentingnya mendapatkan informasi bagaimana penduduk merasakan gempa, getaran seperti apa yang dirasakan, yang akan menjadi salah satu faktor penting untuk memahami karakteristik gempa yang terjadi.

Upaya nyata penelitian pasca gempa di pangandaran 2006 dilakukan oleh KK Geodesi ITB bekerjasama dengan Tokyo University, Nagoya Univerisity, dan BPPT. Pekerjaan survai lapangan dilakukan selama kurang lebih 10 hari dengan urutan kegiatan sebagai berikut:

1) Pengamatan GPS di titik BPN dan titik lainnya untuk melihat coseismic dan postseismic.
2) Mengukur ketinggian tsunami berdasarkan bukti fisik di lapangan.
3) Melakukan wawancara dengan penduduk tentang bagaimana mereka merasakan gempa

Di bawah ini adalah gambar dokumentasi dari pemasangan alat GPS di titik-titik BPN dan titik-titik lainnya yang dipilih untuk melihat melihat efek deformasi coseismik dan postseismic akibat dari gempa yang terjadi di Pangandaran 2006. Sementara itu gambar di bawah ini menunjukkan dokumentasi kegiatan pengukuran ketinggian tsunami berdasarkan data-data fisik di lapangan, dan kegiatan wawancara dengan penduduk tentang bagaimana mereka merasakan gempa pada tanggal 17 juli 2006 yang berujung pada terjadinya tsunami.

Pengolahan Data Dan Analisis Hasil Penelitian

Baca Juga: Pengertian Musik Tradisional

Dari hasil pengolahan data GPS Pangandaran 2006 menggunakan sofware bernese 4.2 memperlihatkan deformasi coseismic yang cukup kecil besarnya sekitar 2 sentimeter, dengan pola arah menuju ke pusat gempa di selatan Pantai Pangandaran. Pola deformasi menunjukkan mekanisme gempa yang biasa terjadi di zona subduksi. Namun demikian, nilai deformasi yang kecil cukup menarik untuk di kaji lebih lanjut, mengingat gempa ternyata di barengi dengan tsunami.

Untuk mendapatkan deformasi postseismic terlebih dahulu harus dilakukan pengukuran kembali satu atau dua tahun ke depan setelah gempa. Informasi postseismik akan berguna dalam mengkaji mekanisme release energy gempa, dan evaluasi pada potensi kegempaan untuk masa yang akan datang.

Hasil pengolahan data ketinggian tsunami berdasarkan bukti fisik di lapangan dari sampel yang diambil mulai dari pantai Pameungpeuk, Cipatujah, Sindangkerta, Pangandaran, Kali Peucang, hingga pantai Cilacap, yang diolah oleh Tokyo University (Kato et. Al, 2006), menunjukan ketinggian tsunami ternyata lebih besar nilainya dibandingkan dengan data hasil pemodelan sementara dari data inversi seismisitas. Bahkan di beberapa tempat tertentu tinggi tsunami ada yang mencapai 6 meter lebih.
Hasil wawancara dengan penduduk tentang getaran gempa yang dirasakan secara garis besar dapat disimpulkan bahwa sebagian dari mereka ketika ada di luar rumah dan sekitar pantai hampir tidak merasakan adanya getaran gempa. Orang-orang di sekitar pantai selatan yang berada di dalam rumah rata-rata merasakan adanya getaran gempa. Kemudian informasi penting yaitu jenis getaran yang lambat (slow shaking) dirasakan oleh mereka.

Dari hasil pengolahan data penelitian di atas, terlihat bahwa kejadian gempa di Pangandaran 2006 yang disertai tsunami memberikan mekanisme deformasi coseismic yang kecil (~2cm), kemudian catatan tinggi tsunami yang lebih besar dari pemodelan data seismisitas, dan terakhir gempa tidak terasa cukup kuat dan sifat gempa yang dirasakan berupa getaran lambat (slow shaking). Data-data ini selanjutnya akan digunakan untuk membuat model coseismic slip dan model tsunami. Kesimpulan sementara yang dapat menerangkan gempa diikuti tsunami yang terjadi 17 juli 2006 berdasarkan data-data penelitian di atas yaitu kemungkinan tipe gempa-ya adalah slow earthquake atau tsunami earthquake.

Masalah yang Dihadapi Masyarakat Setelah Terjadinya Gempa dan Tsunami di Pangandaran

Dengan adanya tempat wisata di Pangandaran sangat menguntungkan bagi masyarakat, tidak hanya penduduk sekitar tetapi juga penduduk yang merupakan mendatang dari luar daerah Pangandaran. Hampir semua atau rata-rata penduduk Pantai Pangandaran bermata pencaharian sebagai pedagang ataupun nelayan, karena Pantai Pangandaran adalah salah satu objek wisata yang cukup banyak digemari oleh pengunjung dari dalam negeri di berbagai daerah maupun luar negeri. Oleh karena itu, peluang untuk berdagang sangatlah besar, hampir setiap musim libur Pantai Pangandaran tidak pernah sepi dari pengunjung. Dan hampir setiap musim libur itu pula para pengunjung mendapatkan keuntungan dari hasilnya berdagang.
Karena penduduk Pantai Pangandaran bermukim atau tinggal di salah satu objek wisata yang banyak diminati oleh pengunjung oleh karena peluang untuk mencari pekerjaan sangatlah banyak, mulai dari berdagang asongan, pakaian, aksesoris makanan dll.

Dan juga mereka menyediakan tempat penginapan hotel dan motel. Keuntungan yang didapatkan sangatlah menguntungkan bagi para pedagang yang berdagang. Biasanya para pedagang mengadakan barangnya tidak hanya diam di tempat tetapi menjualnya ke daerah-daerah lain, biasanya yang banyak dikirimkan adalah makanan khas pangandaran yaitu asin dan terasi udang, dan juga aksesoris seperti gantungan kunci, gantungan hp, dll. Dan biasanya mereka menjala ikan ke tengah laut, tetapi Pantai Pangandaran jarang lengah atau jarang sepi dari para pengunjung. Dengan adanya pantai tersebut perekonomian masyarakat Pangandaran meningkat, Pantai sebagai salah satu mata pencaharian terbesar mereka, jadi tidak salah jika masyarakat sangat menjaga pantai tersebut.

jaketkulitgarut

Kembali ke atas