Perkembangan Akuntansi Barat

Perkembangan Akuntansi Barat

Perkembangan Akuntansi Barat

Perkembangan Akuntansi Barat
Perkembangan Akuntansi Barat

Keberadaan akuntansi barat atau konvensional yang selama ini berkembang, telah mengakar dalam arah pemikiran dan praktik dunia bisnis di seluruh dunia. Adapun tujuan yang hendak dicapai dalam permasalahn ini adalah menganalisis dan mengoreksi persoalan-persoalan yang ada dalam akuntansi barat.

Akuntansi secara tradisional telah dipahami dan diajarkan sebagai saatu serangkaian prosedur rasional yang digunakan untuk menyediakan informasi, yaitu informasi yang digunakan untuk pengambilan keputusan dan pengendalian.

Pembicaraan mengenai perkembangan akuntansi tidak dapat dilepaskan dari akar sejarhnya. Akuntansi, seperti halnya dengan ilmu-ilmu lainnya telah mengalami perkembangan sesuai dengan perkembangan masyarakat pemakinya. Sejarah akuntansi menunjukan bahwa akuntansi sudah cukup lama dimulai. Berdasarkan pendapat beberapa penulis menegaskan, bahwa akuntansi sudah ada sejak sekitar 8000 sampai dengan 5000 sebelum masehi. Padahal peradaban islam telah ada sejak tahun 600-1300 M dan pernah mengalami kejayaan pada tahun 900-1200 M. Jika demikian, maka perkembangan peradaban islam telah banyak memberikan sumbangan terhadap perkembangan sebgai disiplin ilmu yang sekarang ini berkembang dengan pesat.

(Revirson Baswir, “Akuntansi dan Ideologi, kertas kerja pada Seminar Nasional Harteknas, Yogyakarta, 27 desember 1996)

Catatan perkembangan akuntansi dapat dikaji melalu beberapa tahapan berikut:

Tahapan Pertama

Pada periode ini, mekanisme atau metodelogi akuntansi berbentuk tata buku. Sebagaimana disebutkan bahwa sebgaian besar sejarah akuntansi adalah menganai sejarah sivilisasi akuntansi telah berkembang sejalan dengan perkembangan masyarakat. Lebih dari 700 tahun yang lalu pada masa kebudayaan Chalden Babilonia, Asiria, Sumeria telah meninggalkan catatan bisnis tertua. Data lain menunjukan bahwa zaman kuno Mesir, Cina, Romawi juga memiliki tata buku.

Periode berikutnya, muncul beberapa pendapat tentang asal mula sistem pembukuan berpasangan, tetapi mungkin juga bahwa sistem pembukuan berpasangan ini muncul dari buku-buku broker uang yang zaman pertengahan dipengaruhi oleh praktik pembukuan kas zaman Romawi. Sebgaimana diketahui pada tahun 1494 di Venesia, seorang ahli matematika bernama Lucas Pacioli menerbitkan buku tentang akuntansi. Dari sinilah dapat disimpulkan bahwa hal ini merupakan periode perubahan dari zaman pertengahan ke zaman modern.

Tahap Kedua

Tahap kedua adalah tahap awal pertumbuhan teori ekonomi. Para ahli melihat dari segi logika dan kewajaran di dalam pembukuan. Litteleton dan Zimmerman menyimpulkan bahwa “akuntan yang pada awalnya melakukan studi empiris, harus dapat menghasilkan teori prosedur mekanis.” Selanjutnya ide ini telah diterapkan ke praktikan-praktikan lainnya seperti: perkiraan hasil dan biaya.

Sumber teori akuntansi yang lain adalah (kondisi/operasional) perusahaan. Pada mulanya perusahaan itu tidak memerlukan perhitungan lab rugi yang teratur. Sebab perusahaan itu adalah pedagang lokal seperti pedagang berlayar dan pedagang melalui darat. Akan tetapi, setelah munculnya pasar modal pada awal abad ke-19, maka perhitungan lab rugi perusahaan diperhitungakan secara periodik, dan persoalan lainpun muncul, yaitu modal. Dengan demikian, jika perusahaan dapat berjalan terus-menerus kendatipun terjadi perubahan investor atau pemegang saham, maka posisi modal harus diketahui terus. Dari sinilah muncul teori ekonomi.

Tahap Ketiga

Melalui akuntansi, seseorang dapat memprediksi masa depan dan merencanakan kepengurusannya serta menghitung hasil usaha masa lalu. Menurut Littleton dan Zimmerman bahwa “akuntansi sebagai kemajuan paling besardalam pembukuan sama dengan keputusan tentang kebijakan akuntansi ditambah dengan tata buku.

Pada tahap ketiga ini, peranan akuntansi adalah dapat mengontrol individualisme perusahaan yang tidak memperhatikan kepentingan sosial. Individualisme perusahaan yang tidak memperhatikan masyarakat dimaksudkan, karena perusahaan mengejar laba sebanyak-banyaknya. Oleh karen itu untuk mengontrol perilaku perusahaan yang hanya memikirkan laba tanpa memperhatikan aspek sosial, lembaga akuntansi harus digunakan oleh perusahaan sendiri, atau jika tidak bisa oleh lembaga masyarakat. (Sofyan Syahrir Harahap, Akuntansi Islam, Jakarta: Bumi Aksara, 1997. Google serching)

Sumber : https://www.seputarpengetahuan.co.id/2015/03/18-pengertian-kewirausahaan-menurut-para-ahli.html