Redaksi Metode Dakwah Lengkap

Redaksi Metode Dakwah Lengkap

Redaksi Metode Dakwah Lengkap

 

Redaksi Metode Dakwah Lengkap
Redaksi Metode Dakwah Lengkap

Metode berasal dari bahasa yunani methodos, yang merupakan gabungan dari kata meta dan hodos. Meta berarti melalui, mengikuti, atau sesudah, sedangkan hodos berarti jalan, arah atau cara atau jalan yang bisa ditempuh. Cukup banyak metode yang telah diperaktikkan oleh para da’i dalam menyampaikan dakwahnya. Seperti, ceramah-ceramah, tausiyah, nasehat, diskusi, bimbingan keagamaa, dan lain sebagainya. Semua itu bisa di terapakan sesuai dengan kondisi yang dihadapi. Tapi yang harus digaris bawahi adalah bahwah metode bukanlah satu-satunya kunci kesuksesan. Suatu dakwah dapat berhasil, apabila ditunjang dengan seperangkat syarat, baik itu dari pribadi juru dakwah itu sendiri, metode yang di sampaikan, kondisi objek yang sedang didakwahi, atau pun elemen-elemen lainnya.

Adapun metode yang akurat untuk diterapkan dalam berdakwah, telah tertuang dalam Al-Quran surat An-Nahal ayat 125, yang artinya:
“Serulah ( manusia ) kepada jalan tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik, sesungguhnya tuhanmu dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalanNya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.”
Dari redaksi ayat di atas ada 5 macam metode berdakwah yang kita dapat ambil.

1. Dakwah bil Hikmah

Hikmah adalah meletakkan sesuatu sesuai pada tempatnya. Kata hikmah di sini mengandung 3 unsur pokok yaitu:
a. Unsur Ilmu, yaitu ilmu yang shalih yang dapat memisakan antara yang hak dan yang batil.
b. Unsur jiwa, yaitu menyatukan ilmu tersebut ke dalam jiwa sang ahli hikmah, sehingga mendarah danginglah ia dengan sendirinya.
c. Unsur amal perbuatan, yaitu ilmu pengetahuan yang menyatu ke dalam jiwanya itu mampu memotivasi dirinya untuk berbuat kebaikan.

2. Dakwah bil Mau’izhatil Hasanah

Mau’izhatil Hasanah adalah kalimat atau ucapan yang diucapkan oleh seorang da’i atau muballigh. Disampaikan dengan cara yang baik, berisikan petunjuk-petunjuk kearah kebajikan, diterangkan dengan bahasa yang sederhana, supaya yang disampaikan itu dapat ditangkap, dicerna, dan dihayati.
Tahapan selanjutnya dapat diamalkan. Bahasanya yang lembut begitu enek didengar, berkenaan di hati, dan menyentuh sanubari. Serta merasakan kesungguhan sang da’i menyelamatkan mereka dari suatu kemudaratan sebagaimana firman Allah SWT yang artinya:

“Tidakkah kamu perhatiakn bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya tegu dan cabangnya menjulang ke lagit. Pohon itu memberikan buahnya pada setiap Musim dengan seizing tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat.” ( QS. Ibrahim (14): 25-25).

3. Dakwah bil Mujahadah

Dakwah bil Mujahadah metode untuk mengajak manusia kepada jalan Allah SWT. Memang sangat banyak dan beragam, dan yang paling umum digunakan adalah.

a. Komunikasi verbal, komunikasi ini digunakan untuk meyampaikan pesan kepada akal, perasaan dan hati, baik dengan ungkapan maupun dengan tulisan.

b. Diskusi dan perdebatan, secara umum metode dakwah yang satu ini di tujukan bagi orang-orang yang taraf berpikirnya telah maju dan kritis seperti halnya Ahlul kitab, yang memang telah memiliki bekal keagamaan dari para utusan Allah SWT sebelumnya. Karena itulah Al-Quran memberi memberikan perhatian khusus kepada Ahlul kitab. Dan perdebatan itu dilakukan dengan cara yang baik . hal ini tertuang dalam Al-quran. (QS. Al-Ankabut ayat 46) yang artinya:
“Dan janganlah kamu berdebat dengan Ahli Kitab, melainkan dengan cara yang paling baik, kecuali dengan orang-orang zalim di antara mereka [1154], dan Katakanlah: “Kami telah beriman kepada (kitab-kitab) yang diturunkan kepada Kami dan yang diturunkan kepadamu; Tuhan Kami dan Tuhanmu adalah satu; dan Kami hanya kepada-Nya berserah diri”.[1154]
Yang dimaksud dengan orang-orang yang zalim ialah: orang-orang yang setelah diberikan kepadanya keterangan-keterangan dan penjelasan-penjelasan dengan cara yang paling baik, mereka tetap membantah dan membangkang dan tetap menyatakan permusuhan.

c. Berdakwah dengan metode Bil mujahada seorang da’i harus memperhatikan beberapa hal:
1. Hendaklah dalam berdiskusi, seorang da’i tidak merendakan pihak lawan atau menjelek-jelekkan mereka, karena pada dasarnya, tujuan diskusi bukanlah untuk mencari siapa yang menang dan siapa yang kalah, melaikan untuk memudahkan supaya bisa sampai kepada kebenaran.
2. Diskusi tersebut bertujuan untuk menunjukan kebenaran sesuai dengan ajaran Allah SWT, dan hindarilah segala sesuatau yang dapat mennyinggung perasaan mad’u.

4. Dakwah bil hal

Dawah bil hal adalah dakwah yang diberikan oleh seorang melalui amal perbuatan yang nyata. Dapat kita ambil contohnya yang dilakukan Rasulullah, ketika untuk yang pertama kalinya beliau beserta sahabat muhajirin tiba di Madinah, bahwasanya yang pertama kali dilakukan Rasulullah adalah membangun Masjid Nabawi, bahkan beliau terjun langsung dalam pembagunan masjid itu, memindahkan bata, dan bebatuan seraya berdo’a “ ya Allah, tidak ada kehidupan yang lebi baik kecuali kehidupan akhirat. Maka ampunilah dosa orang-orang Anshar dan Muhajirin. Beliau bersabda: para pekerja ini bukanlah para pekerja khaibar. Ini adalah pemilik yang paling baik dan paling suci.

5. Dakwah bil Qalb

Sesunggunya, dakwah itu tidak cukup dengan melakukan metode sebagaimana yang telah di uraikan di atas, Yaitu dakwah bil hikmah, bil mau’izhatul, bil mujadalah, bil hal,ataupun dakwah bilmah. Akan tetapi, ada pula yang dinamakan dakwah bil qolb (dakwah dengan hati) dan yang terahir disebut inilah yang sebenarnya memegang kunci keberhasilan.
Semua metode di atas pada prinsipnya sangat komplementer, Saling melengkapi. Dakwah dengan mendekatkan hati ini sangat diperlukan, mengingat banyak para da’i yang berdakwah dengan lebih mengedepankan nalar/logika saja. Padahal orang yang berdakwah dengan pikiran, kecenderungannya akan lari dari filsafat. Dan kalau sudah bicara tentang filsafat, maka tidak ada ujungnya.

Mungkin kita terheran-heran ketika melihat seseorang yang mampu memberikan ceramah atau tausyiah sedemikian mengagumkan, namun bila hal itu kita cermati, sesungguhnya mereka dapat menyampaikan suatu ceramah ataupun tausiyah secara mengagumkan adalah karena ia diawali dari hati, diucapkan dengan niat yang baik dan tulus, disinilah letak dakwah yang sebenarnya, yaitu hati.

Oleh karena itu, sebelum seseorang berdakwah dengan orang lain, seyokyanya ia menata diri atau berdakwah kepada dirinya terlebih dahulu. Jangan sampai menyeruh kepada orang lain untuk berbuat kebajikan, namun dirinya sendiri justru terlupakan. Artinya, perioritas yang utama adalah memang untuk melakukan pembenahan terhadap diri sendiri khususnya, segala sesuatu yang menyangkut masalah hati.

Sumber: https://www.dutadakwah.co.id/khutbah-hari-raya-idul-fitri-menjaga-hati-tiga-pesan-ramadhan/